IMBAS ISSUE POLITIK 2017 TERHADAP PERAWAT INDONESIA


Dampak problem ‘Penistaan agama’ luar biasa luasnya. Saudara seendiri bisa berubah, jadi lawan. Teman yang semula dekat kini berjauhan. Kerjasama jadi perteruan. Tidak ada lagi kata sapa. Tidak ada silaturahim dan canda tawa. Politik, begitu keruh suasananya. Profesi keperawatan tidak luput dari imbasnya. Kita terbelah sudah. Hanya Allah SWT Yang Mahamengetahui kapan berakhirnya.

Ada sejumlah hikmah di balik ‘tragedi’ ini. Di antaranya adalah: hidup ini pada dasarnya tidak lepas dari politik. Semuanya ikut bermain. Tidak ada istilah ‘non-blok’. Karena ketidak-berpihakpun, nyatanya juga berpihak. Yakni berpihak kepada ketidak-pastian. Berpihak kepada ketidak-tentuan. Kasarnya, tidak berpendirian. Padahal, hitam dan putih itu sudah jelas.
Hikmah berikutnya adalah, yang munafik akan nampak jelas: siapa dan ada di mana. Siapa yang dibela dan atas landasan dasar apa, sangat kasat mata. Siapa kawan yang sesungguhnya juga transparan.

Hidup kita tidak lama. Rata-rata 60 tahun. Jika 8 jam perhari digunakan untuk istirahat, berarti hanya 2/3 nya atau 40 tahun lamanya. Separuh lebih digunakan untuk menuntut ilmu, minimal 20 tahun untuk tingkat diploma. Jadi tinggal 20 tahun kesempatan untuk berkarya. Angka 20 tahun itu pun (33% dari total jatah hidup) belum tentu kita maksimal memanfaatkannya. Artinya, kita belum tentu gunakan untuk karya yang bermakna: buat diri sendiri, orang lain, masyarakat, negara, dunia dan alam sekitar.

Jadi, pada dasarnya, selama 20 tahun hidup, untuk apa mengoleksi waktunya? Adalah sangat disayangkan serta tidak masuk hitungan logika, jika waktu 20 tahun kita manfaatkan untuk menipu, menghalalkan segala cara, ngumpulkan harta, bikin kuburan mewah.

Perawat Indonesia generasi muda menghadapi tantangan global yang luar biasa massive nya. Persaingan ada di mana-mana: professional, sosial, ekonomi, politik dan budaya. Susah cari kerja, dibayar murah, profesionalitas belum tertata, tidak punya representative yang menjaga, hidup tidak sejahtera, merasa direndahkan di masyarakat, dianggap kurang karya.

Perawat muda kita mungkin ada yang tidak memiliki HP android. Tetapi dipastikan 100% punya handphone lengkap dengan media sosialnya. HP nya di bawa ke mana-mana. Seolah tanpanya sulit hidup. Komunikasi, entah dengan siapa saja, sepertinya tidak boleh terlewatkan. Hidup dan kehidupan mereka dikontrol oleh benda kecil, 200 gram beratnya, segenggam tangan ukurannya, melebihi ‘Kitab Suci’ perannya. Tetapi bilang susah jika mau belajar bahasa Internasional. Mengeluh sulit mendapat informasi kerja. Ada yang buta nilai Kurs Dollar Singapura. Bahkan, ada yang tidak tahu Passport itu bagaimana tampilannya.

Perawat muda, pertengahan dan tua usia, sudah nyaris lupa dengan issue yang tengah terjadi sesungguhnya di tengah-tengah kita. Bahwa hidup harus jalan, diisi dan diperjuangkan. Tidak sekedar dengan kata-kata, apalagi hanya penulisan status di media sosial.

Sementara generasi muda di belahan dunia lain sibuk dengan mengisi peluang kerja, kita masih enak-enakan mengharap sesuatu yang belum tentu ada realisasinya. Sudah tahu bahwa menjadi PNS adalah impossible, namun harapan kita masih tetap membandel. Sudah tahu bahwa tanpa STR tidak bisa kerja, kita masih ngotot ingin magang. Sudah paham bahwa praktisi yunior dibayar kecil, masih juga tidak mau mengubah diri.

Entah apa yang dicari di dalam gadget kecil yang selalu nempel di tangannya. Hanya karena tidak bisa bahasa Inggris, keluhannya meluas di semua sudut negeri. Hanya karena tidak lulus Ukom saja, begitu membahana tangisannya.

Kondisi perpolitikan negeri ini sudah ada yang memikirkannya. Sulit mencari siapa yang peduli. Walaupun, kita semua sebenarnya sudah tahu Tupoksinya. Jika hak kita ‘memilih’, pilihlah orang yang baik dan benar. Pilih orang yang benar dan baik. Sesudah itu, kerjakan yang anda suka, tahu dan bisa.

Jika anda merasa bahwa keperawatan adalah profesi yang anda suka, maka fokuslah. Kalau saat ini belum lulus Ukom dan tidak punya STR, tidak masalah. Cari peluang kerja yang tidak mengharuskan punya STR. Bisa di dalam negeri juga di luar negeri.

Kerjakanlah yang anda tahu. Jika selama studi anda hanya tahu 30 jenis kompetensi, tuangkanlah dalam CV. Sebarkan. Kabarkan kepada saudara, teman-teman bahwa 30 kompetensi inilah yang anda tahu. Tentang besarnya upah, itu persoalan belakang. Nanti pasti akan menyusulnya.

Tetapi jangan lupa, bahwa meski anda suka dan tahu, belum tentu anda bisa. Artinya, dari 30 kompetensi yang anda ketahui, belum tentu anda bisa atau mampu melakukannya. Jangan sedih. Bila tidak mampu, cobalah ikuti pelatihannya. Jika bahasa yang jadi kendala, jangan pula gelisah. Berlatihlah. Ikuti training. Karena hanya itu jalan keluarnya. Kalau anda merasa berat tidak mampu bayar, sampaikanlah bentuk kerjasama atau imbalan yang bisa anda tawarkan sebagai penggantinya.

Saudara…….
Artikel ini sepertinya kurang fokus. Anda pembaca, kami bawa kemana-mana. Memang itulah tujuanya. Hidup terkadang harus eksplore ke semua jurusan. Tidak hanya pergi ke ibu kota. Tidak pula ke satu desa saja. Kita perlu tahu luasnya lautan, kedalaman lembah, dan ketinggian bukit yang menjulang.

Suasana kehidupan politik di negeri kita tahun 2017 ini sangat beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Memang, bergantung pada sudut pandang kita untuk menyebutnya. Bisa disebut problematika, bisa pula disebut tantangan. Ada yang melihatnya biasa-biasa saja, ada yang acuh-tak acuh, ada yang sekedar tahu, ada yang untuk tambahan wawasan, serta ada yang digunakan sebagai bahan mencari peluang.

Yang pasti, perawat Indonesia butuh hidup sejahtera. Itu yang tidak boleh dikesampingkan. Anda boleh lupakan saudara, atau, kawan yang tidak sepaham. Namun anda tidak bisa menunda kebutuhan perut, pakaian dan pemilikan rumah. Anda harus kerja dan punya penghasilan.

Seperti sepeda. Tetap mengayuh agar jalan terus. Bergeraklah agar disebut hidup. Jangan hanya diam di kamar, tinggal di rumah tanpa aktivitas, sibuk dengan gadget buatan China atau Amerika. Ketuk semua pintu kesempatan. Sapa lah orang yang meskipun, anda tidak kenal. Jangan terlalu egois untuk berkata bahwa anda anda anak orang punya, lantas tidak butuh informasi kerja. Siapa tahu, yang anda benci ternyata sumber rejeki. Tidak terkecuali, peluang kerja ke luar negeri.

Ditulis di : Malang, 15 February 2017
Oleh : SYAIFOEL HARDY

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu."

1 Response to "IMBAS ISSUE POLITIK 2017 TERHADAP PERAWAT INDONESIA "