Arrghhh, pagi buta itu
setelah shalat shubuh ane bergegas beranjak dengan muka bantal, rambut
awut-awutan dan handuk melingkar di leher (layaknya seperti seorang ustadz)
menuju masjid wc. Ya, jangan terkejut ya soalnya ane mau mandi (nggak
kokk bukan habis mimpi basah). Seperti anak muda pada umumnya yang jarang mandi
pagi buta jika bukan ada acara yang sangat penting ataupun mendesak. Yaa hari
itu hari wisuda ane (ane wisuda woyy tepuk tanganin kek). Jika bukan karena
wisuda (dan tentunya omelan emak-emak) tentunya sekarang ane sudah bermanja ria
di kasur. Memang kasur ialah area dimana gaya gravitasi paling besar ketika
pagi hari (ketiduran di wc).
![]() |
| Kuliah Capek-Capek Cuman Buat Dapetin Ini via osmd.wordpress.com |
Setelah mandi pun
kelelahan dan muka belum melek pun masih terasa, namun tetap ane paksain dandan
berpakaian rapi setampan mungkin (walau ane sadar dandan atau nggak muka ane
tetap kucel). Abang ane pun udah siap ngejemput di depan rumah dengan kendaraan
beroda empatnya, Kami pun bergegas biar nggak telat di hari bahagia ini. Hari bahagia
biasanya disertai puji syukur, tapi ane hari itu cuman banyak beristighfar di
dalam mobil. Bukan kenapa-kenapa, ane serasa lagi naik wahana roller coaster
atau mungkin lagi boncengan sama valentino rossi atau berasa di film fast
furious. Yaa allah tolong selamatkan kami selama di perjalanan, ane belum wisuda
dan nikah yaa Allah seraya ngingetin abang ane yang ngebut (tapi masih aja
tetap ngebut).
Setelah sampai di
tempat dilaksanakannya wisuda, ane dan orang tua ane segera menuju ke tempat
resepsi pernikahan wisuda ane dilaksanakan. Sebelum masuk gedung ane
sempetin ngajakin orang tua buat foto sebentar (biar ada bukti kalo ane sudah
wisuda). Segera setelah berfoto kamipun segera masuk ke gedung dilaksanakannya
wisuda dan memisahkan diri (karena nggak mungkin wisudawan duduk di samping
orang tua ataupun sebaliknya). Satu hal yang sangat ane ingat ketika itu, waktu
ane masuk daerah wisuda ane semacam masuk dunia lain yang sangat ane benci. Betapa
tidak, begitu banyak ulat bulu nangkring di jidat para kaum hawa. Yaa ane emang
paling illfeel sama cewek yang punya alis kayak ulat bulu. So disguisting!
Ane pun segera menuju
daerah duduk yang telah disediakan buat ane. Nggak susah emang buat nyari
daerah duduk sebab emang ane udah tau dimana posisi duduk ane pada ketika gladi
bersih kemaren. Huuuffftt, duduk disini lagi. Nggak kokk kursinya nggak salah, mantan
posisi duduknya yang salah. Yaa posisi duduknya memang seuai urutan IPK. Di satu
sisi ane senang memang mampu duduk di barisan depan dan mampu menikmati prosesi wisuda dari awal
hingga akhir. Tapi di sisi lain ane sedih cuy (bisa sedih juga yaa), ane sedih
kepisah sama sahabat seperbejatan ane yang pada duduk di belakang (maafkan ane
mengkhianati kalian broh). Mungkin karena itulah salah satu alasan ane nggak
suka posisi duduk mirip ini (alasan kedua nggak mampu milih duduk di sebelah
cewek cantik). Posisi duduk kayak gini menurut ane membentuk semacam kasta dan
membuat sebuah perbedaan yang nyata, para brahmana di depan dan para sudra layaknya
budak berada di belakang. Padahal jika ini perang mungkin ane yang duluan mati
yaa, beruntungnya ini cuman wisuda bukan perang beneran ckck.
Selama prosesi pernikahan
wisuda pun berjalan lancar walaupun ane sedikit nervous waktu mau maju ke
depan. Bukan nervous apa, takutnya ane jatuh waktu jalan ke depan dan tak mampu
bangkit lagi lalu tenggelam dalam lautan luka dalam, etdah mulai ngaco. Tali kuncir
ane pun udah digeser ke kanan. Berat banget yaa kayaknya usaha semua mahasiswa di
bumi ini demi memindahkan tu tali kuncir dari kiri ke kanan doang. Bayangin aja
3 tahun ane berjuang hingga titik lembar penghabisan kertas demi ngerjain tugas
laporan, makalah, KTI dan sebagainya. Bukannya nggak lapang dada atau nerimo
(tapi curhat), cuman kan kertas dibuat dari pohon. Lah kalo setiap mahasiswa di
dunia ngabisin beribu-ribu lembar kertas demi mindahin tali kuncir doang coba
kalian hitung berapa banyak pohon yang musti ditebang cuman buat bikin kertas? Yaa
wajar kan kalo terjadi global warming di bumi kita karena penyebabnya itu kita
sendiri, terutama dosen yang ngasih mahasiswa banyak tugas #ehh. Mungkin akan
muncul teori makin banyak wisudawan maka global warming akan semakin meningkat
#nah. Belum lagi waktu yang mesti terbuang percuma demi nungguin dosen buat
konsul, hingga titik pulsa penghabisan pun yang disms tak kunjung ngebales sms
dan ngangkat telpon kita layaknya orang yang lagi marahan kala pacaran
(curcol). Tapi mungkin satu hal yang perlu kita ingat, dosen layaknya orang
tua, tidak ada dosen maka tidak mungkin akan ada yang namanya mahasiswa.
Ane pun galau harus
bahagia atau justru bersedih di wisuda ane. Di satu sisi ane senang mampu
menyelesaikan pendidikan kuliah ane tepat waktu tanpa nambah semester dan
nambah beban dosen bimbingan. Di sisi lain, kokk nggak ada yang datang buat
ngasih ucapan selamat udah wisuda gitu? Ngenes memang tapi mirip itu nyatanya,
tidak ada gebetan yang akan datang ketika wisuda, bahkan sahabat-sahabat ane
pun pada serempak nggak mampu datang (pada disibukin sama PPL dan nggak bisa
bolos, poor mahasiswa). Tapi ane tersadar ini harusnya hari bahagia ane, nggak
ada yang datang ngucapin selamat bukan berarti ane sendirian, masih ada
keluarga ane yang hadir dan bangga ane bisa lulus tepat waktu (mestinya). Ane pun
pulang dengan tersenyum, mestinya ane mesti banyak bersyukur. memang yang
namanya insan kadang lupa bersyukur terhadap apa yang sudah dikasih sama Tuhan.
Dan ketika ane keluar pintu gedung tempat wisuda tadi, terpintas sebuah pikiran
di kepala ane, “Apa yang ane lakuin setelah wisuda yaa?” (Kembali murung).....
Update terbaru: 31/03/2016
Ane dapat pekerjaan gan, say Alhamdulillah, babay pengangguran. Maaf aku lebih dulu meninggalkan kalian. Semoga kalian para pengangguran juga cepat mendapatkan pekerjaannya. Salam sukses!!
Baca juga: Lulus Kuliah Bukanlah Akhir Permasalahan

0 Response to "Habis Wisuda Terbitlah Galau"
Post a Comment