Catatan Seorang Perawat Untuk Bidan Indonesia

Ontamedis - Di pintu gerbang Ramadan tahun ini, jadi ingat saat sekolah. Sekolah Perawat Kesehatan, adalah masa yang sangat indah. Betapa tidak, tiga profesi dilebur jadi satu: Perawat, Bidan dan Kesehatan Masyarakat. Ditempuh dalam waktu 3 hanya  tahun. Luar biasa.

Kami ada 30 orang. Cewek 20 orang, cowok 10 orang. Semuanya pintar-pintar. Semuanya kini jadi pegawai negeri sipil (PNS), kecuali saya yang mbalelo.

Karena punya dasar kebidanan yang cukup kuat, hamper sepertiga teman-teman kini jadi Bidan. Sukses luar biasa! Dua di antaranya jadi dosen senior, yang juga mantap!
Pokoknya, meski hanya modal SPK, teman-teman joss gandos! Lima orang dari kami, kini menyandang master.

Saat sekolah SPK dulu, pengajar kami, seorang dokter jebolan Rusia. Dokter Spesialis Kebidanan. Setiap pekan ada ujian, 30 menit. Setiap kuliah selalu ada phantom di atas meja. Kami, 30 orang dituntut selalu siap. Semua punya buku pegangan yang paling bergengsi, terbitan Universitas Padjadjaran, Fakultas Kedokteran.

Wow….pokoknya, semua teman-teman punya buku wajib tersebut, kecuali saya, yang melarat saat itu, yang pinjam kakak tingkat.

Tapi saya gak mau kalah sama teman-teman. Selalu duduk di depan. Dan nilai Obsgyn ini selalu A! Alhamdulillah…..
Cowok-cowok ini, minimal 12 kali sudah nolong persalinan.

Saya sudah nolong 23 kali. Pendeknya, kalau hanya soal proses persalinan dan menolong BBL, kami lalap. Hapal banget yang namanya PAP dan tetek bengeknya. Apalagi yang cuman letak posisi janin normal. Letak sungsang dan letak lintang rata-rata teman-teman mantaaabbbsss!

Makanya, ketika cari kerja sambilan, saya percaya diri saja, untuk menawarkan diri ke seorang bidan praktik. Alhamdulillah boleh, tentu bukan nolong persalinan. Namun, seperti sebatas pada membantu registrasi, imunisasi atau tindik.

Zaman kini sudah berubah…..saya tidak tahu bagaimana kualitas bidan. Tetapi satu yang pasti, bahwa peluang kerja tidak lagi segampang zaman kami dulu.

Saran saya, bidang harus dinamis dalam menjemput peluang kerja. Jika zaman dulu kami yang perawat bisa melalap profesi bidan, kini saatnya bidan juga harus berani siap, kalau perlu tahu bagaimana menguasai apa yang bisa dikerjakan oleh perawat.

Dengan demikian, bidan bisa kerja merangkap perawat. Jika bidan hanya menyebut dirinya bidan, maka lapangan kerja tidak lagi mudah. Sebaliknya, jika bidan menyebut dirinya perawat dengan spesialisasi kebidanan, maka betapa luas lapangan kerja ini. Kalau perlu, mulai dengan yang mudah dan sederhana. Misalnya kerja sebagai caregiver atau assistant nurse.

Wahai bidan Indonesia, cobalah melihat kenyataan hidup agar hidup tidak sebatas angan-angan yang dibayangi ketakutan.

Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 26 Mei 2017

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu."

0 Response to "Catatan Seorang Perawat Untuk Bidan Indonesia"

Post a Comment