3 Penyakit Kronis Yang Melanda Perawat Muda Indonesia

Terlepas dari ketidakmampuan Pemerintah kita menampung lulusan keperawatan untuk menjadi PNS dan kelemahan sektor swasta menyedot semua alumni, ada 3 penyakit kronis terbesar yang melanda generasi muda nursing kita:

1. Penyakit pertama: Instantitis. Generasi muda kita inginnya serba cepat, seperti sms, bisnis online, BBM, WA atau FB, yang dalam hitungan detik kirim sebuah pesan bisa disampaikan dan mendapatkan jawaban pada saat yang sama.

Perawat Muda Indonesia
Generasi muda kita malas bergerak karena terbiasa pegang HP sambil leyehan atau tiduran. Barang dikirim cukup dengan tekan tombol. Dalam jangka panjang ternyata dampaknya sangat besar dan meluas. Mereka enggan melalui proses. Apalagi jika harus ikut pelatihan: pembuatan CV, interview technique, English strategy, customer care, Prometric Test dan lainnya yang bertele-tele. Proses dianggap identic dengan keruwetan.

Belum lagi jika harus melalui orientasi. Maka betapa lamanya untuk mendapatkan hanya sebuah pekerjaan yang upahnya tidak lebih besar ketimbang uang saku pemberian orangtua. Kita lupa, bahwa untuk pengurusan PNS saja, bisa makan waktu 1 tahun. Untuk masak Supermie saja, harus rebus air dulu, ngupas pembungkus, mengaduk dan seterusnya. Makin enak mie nya, makin lama prosesnya.

2. Penyakit kedua: Hardworking Phobia. Takut dengan kerja keras. Ada teman-teman generasi muda yang terbiasa rajin dan suka aktivitas. Kita tidak menolak kenyataan, bahwa memang banyak teman-teman yang bersedia kerja keras. Tetapi jangan lupa, yang jauh lebih besar jumlahnya adalah yang malas, ogah bekerja keras. Jangankan untuk bergerak secara fisik dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kerja; sekedar me-redesign CV nya saja, kadang malas untuk melakukannya. Maunya copy & paste.

Boleh jadi ini akibat perlakuan manja yang biasa mereka peroleh saat kuliah. Tugas-tugas kampus banyak yang bisa diselesaikan dengan hanya copy & paste pula. Ada yang nyuruh orang atau beli soal paket dari dosen. Toh hasilnya OK, tanpa dicek oleh dosen pembimbingnya. Mahasiswa ogah memikul tanggungjawab. Melihat darah saja, mahasiswa bisa ‘jijik’.

Padahal, mereka tahu bahwa tidak ada orang yang sukses tanpa kerja keras. Manakala butuh financial support, tinggal minta orangtua. Mereka malas kerja yang jauh dari orangtua. Inginya jadi PNS. Kalau perlu dinas pagi terus, kerjaan ringan.

3. Penyakit ketiga: Lifestylitis. Penyakit gaya hidup. Kasarnya: gengsi. Di USA, Inggris, Australia, budaya lepas dari orangtua sudah mulai pada usia 18 tahun. Di usia dini mereka sudah dididik untuk belajar mandiri. Adalah hal yang biasa, meski dari keturunan orang kaya, mereka tinggal di luar dan kerja sebagai tenaga paruh waktu di Fast Food Restaurant.

Dari sana mereka mendapatkan upah. Dari sana mereka belajar hidup tanpa bergantung kepada mama-papa. Di negeri kita beda. Banyak orangtua yang malah melarang anak-anaknya kerja di tempat yang ‘kotor’ atau ‘rendah’. Akibatnya, teman-teman generasi muda kita malas menyentuhnya. Mencuci piring, membersihkan halaman, selokan, membuang sampah, mengangkut barang, mencuci kendaraan, dianggap hina.

Mereka lebih suka bergaya dengan pegang HP bermerk, Laptop terkini, tas dan sepatu mahal, kacamata keren, pakaian punya nama. Teman-teman lulusan D3/S1/Ners, alergi dengan kerjaan yang dimulai dari Caregiver, Assistant nurse, yang konotasinya ‘jorok’, hanya bantu orang jompo, kerjaaanya identic dengan Toilet. Biasa teracuni gaya hidup rapi, harum dan bergengsi.

Solusinya bagaimana?
Di tahun 2017 dan ke depan ini, jangan harap yang namanya waktu akan toleran dengan tiga penyakit kronis ini. Matahari akan tetap bersinar, tanpa mengajak kita mau bangun pagi atau tidak. Jarum jam tidak bakalan mutar lambat, hanya karena kita sedang capek atau tidak enak badan. Dan…..kebutuhan hidup tidak bakal surut hanya karena kita nganggur. Harga bakal naik terus meninggalkan kita yang malas.

Biasakan kerja dari usia dini. Tidak harus angkat besi. Segera bangun pagi. Bagi yang sarapannya membuka  HP, bacalah kalimat-kalimat motivasi. Tapi jangan lupakan Kitab Suci. Olahraga sedikit. Ambil sapu lidi. Bersihkan tuh kamar mandi. Bantu orangtua nyuci atau merapikan almari. Zaman kini sudah tidak ada lagi diskriminasi, tentang apa yang harus dikerjakan perempuan maupun lelaki.

Hubungi teman atau relasi bisnis. Tanyakan apa ada yang baru dan harus anda ketahui. Jangan berharap dapat posisi manager tanpa melalui kuli.

Jika perlu, kunjungi teman serta tawarkan apa yang bisa anda bagi. Jangan diam di kamar atau rumah sendiri. Saat keluar, cobalah sapa orang-orang yang anda temui. Bantu mereka, pasti dapat rejeki. Kalau tidak sekarang, pastilah nanti dari Sang Illahi.

Yang namanya peningkatan kompetensi dan perolehan rejeki, itu pasti sedang menanti. Kalau tidak di negeri ini, siapa tahu di luar negeri. Namun jangan lupa orangtua harus merestui.

Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 3 Juni 2017

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu."

0 Response to "3 Penyakit Kronis Yang Melanda Perawat Muda Indonesia"

Post a Comment