Ontamedis - Bulan-bulan ini sudah mulai marak pendaftaran mahasiswa baru. Kampus, lulusan anak-anak SMA, orangtua, sibuk mencarikan jurusan paling pas.
Syarat-syaratnya macam-macam. Ada administratif, financial, akademik, dan kesehatan. Syarat kesehatan ini antara lain disebutkan: Laki-laki TB minimal 155 cm, perempuan 150 cm. Tidak buta warna, dan tidak obesitas (BMI antara 18-30).
Tercantum pula catatan: TB ini divalidasi saat kesehatan. Apabila kurang dari 150 cm, bisa digugurkan.
Saudara.....
Siapa sih yang ingin TB rendah? Di dunia ini tidak ada orang yang ingin badannya rendah. Apalagi direndahkan. Yang membuat TB kita seperti sekarang ini adalah Yang Maha Pencipta di Atas Sana. Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan desain perorangan, bukan pula sesuatu yang bisa direncanakan. Misalnya, agar tinggi badannya, harus banyak makan Mie, Kacan Panjang, atau Kelapa. Atau yang sering renang, olah raga loncat-loncat dan lain-lainnya.
Dunia keperawatan kita sudah jelas. Kompetensi seorang perawat yang dibutuhkan saat kerja adalah merawat. Tiga puluh tahun saya kerja di dalam dan luar negeri, tidak pernah melihat kerjaan perawat yang angkat-angkat barang, naruh sesuatu di gudang, atau harus jinjit menjangkau barang-barang di atas almari setiap hari, sehingga butuh berbedan tinggi.
Perawat, paling 'tinggi' kerjaannya adalah merawat orang yang sedang: duduk. Kalau berdiri, biasanya disuruh duduk, betapapun orangnya tinggi. Yang paling sering, pasiennya dalam posisi tidur terlentang. Itulah posisi terpopuler dalam merawat pasien. Saya tidak pernah melihat perawat yang karena pasiennya tinggi sekali TB nya, kemudian merasa kesulitan merawatnya.
Perawat, bukan seperti Pramugari, yang harus jalan cepat di dalam pesawat dan tingginya harus sedemikian rupa, sehingga bisa menjangkau Cabin, tempat menyimpan barang di atas kursi penumpang. Perawat, tidak pula dituntut berbadan tinggi semampai yang lenggak-lenggok di catwalk seperti Fashion Designer.
Kalau hanya pasang infus misalnya, atau ngecek tetesan botol tranfusi, memang nya perawat terlalu bodoh, sehingga nggak bisa melakukan hanya karena TB?
Barangkali yang agak pas, butuh tinggi ideal jika perawat sebagai Occupational Health Nurse, di mana terkadang secara operational dituntut untuk bisa lari, loncat, dan manjat. Itupun, orang-orang HSE (Health and Safety Environment tidak semuanya berbadan tinggi). Kecuali, orang-orang Barat atau Afrika yang dari sononya TB nya memang tinggi-tinggi. Orang Netherlands misalnya, rata-rata perempuan di atas 170 cm. Laki-lakinya 184 cms (sumber: ASEAN Body Height 2014).
Jadi, tidak menerima calon mahasiswa keperawatan karena alasan Tinggi Badan adalah Diskriminasi. Diskriminasi melanggar hak azasi manusia. Pelanggaran terhadap hak azasi manusia adalah perbuatan tercela.
Ini adalah diskriminasi gaya lama yang darinya kita tidak mau belajar menghargai hak-hak orang (Human Rights).
Kita, terkadang sangat ideal tentang koar-koar terhadap Human Rights, menyuarakan hak-hak azasi manusia. Tetapi, kita sendiri yang profesional, acapkali tidak mau mereview hal-hal yang sudah kuno. Kita butuh generasi profesional yang kritis, termasuk menghapus diskrimasi Tinggi Badan dan Buta Warna.
Menurut, Asean Average Height 2014, rata-rata TB untuk laki-laki di Indonesia 158 cm dan perempuan 147 cm. TB perempuan Indonesia, lebih rendah ketimbang Malaysia (153), Thailand (159), Filipina (150), Singapore 160. Untuk laki-laki, kita juga di bawah Vietnam dan Filipina (162), Malaysia (165), Thailand (170), Singapore (171) cm).
Jadi, orang Indonesia di wilayah ASEAN, terendah TB nya.
Saat ini, kriteria masuk kampus Keperawatan bagi perempuan adalah 150 cm, sementara rata-rata perempuan Indonesia TB adalah 147, memangnya TB ini sama seperti soal-soal matematika UMPTN?
Saya belum pernah melihat buku penelitian, hasil research kondang di dunia ini, yang menyebutkan bahwa orang yang tinggi badannya, prestasinya bagus, baik-baik, ramah, cekatan, rajin kerja dan baik budinya.
Mohon dicatat, tinggi badan, bukan sesuatu yang bisa disamakan dengan prestasi yang bisa dipelajari dan ada test nya. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena TB nya. TB bukan jaminan orang bakal rajin pandai, jujur, cekatan dan ramah dalam kerjanya. Tinggi badan, bukan pula ukuran kebaikan seseorang. Apalagi karena TB nya, orang bisa masuk surga!
Ringkasnya, TB bukan Key Performance Indicator (KPI) profesional keperawatan. Hapuskan!
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 9 Juni 2017
Syarat-syaratnya macam-macam. Ada administratif, financial, akademik, dan kesehatan. Syarat kesehatan ini antara lain disebutkan: Laki-laki TB minimal 155 cm, perempuan 150 cm. Tidak buta warna, dan tidak obesitas (BMI antara 18-30).
Tercantum pula catatan: TB ini divalidasi saat kesehatan. Apabila kurang dari 150 cm, bisa digugurkan.
Saudara.....
Siapa sih yang ingin TB rendah? Di dunia ini tidak ada orang yang ingin badannya rendah. Apalagi direndahkan. Yang membuat TB kita seperti sekarang ini adalah Yang Maha Pencipta di Atas Sana. Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan desain perorangan, bukan pula sesuatu yang bisa direncanakan. Misalnya, agar tinggi badannya, harus banyak makan Mie, Kacan Panjang, atau Kelapa. Atau yang sering renang, olah raga loncat-loncat dan lain-lainnya.
Dunia keperawatan kita sudah jelas. Kompetensi seorang perawat yang dibutuhkan saat kerja adalah merawat. Tiga puluh tahun saya kerja di dalam dan luar negeri, tidak pernah melihat kerjaan perawat yang angkat-angkat barang, naruh sesuatu di gudang, atau harus jinjit menjangkau barang-barang di atas almari setiap hari, sehingga butuh berbedan tinggi.
Perawat, paling 'tinggi' kerjaannya adalah merawat orang yang sedang: duduk. Kalau berdiri, biasanya disuruh duduk, betapapun orangnya tinggi. Yang paling sering, pasiennya dalam posisi tidur terlentang. Itulah posisi terpopuler dalam merawat pasien. Saya tidak pernah melihat perawat yang karena pasiennya tinggi sekali TB nya, kemudian merasa kesulitan merawatnya.
Perawat, bukan seperti Pramugari, yang harus jalan cepat di dalam pesawat dan tingginya harus sedemikian rupa, sehingga bisa menjangkau Cabin, tempat menyimpan barang di atas kursi penumpang. Perawat, tidak pula dituntut berbadan tinggi semampai yang lenggak-lenggok di catwalk seperti Fashion Designer.
Kalau hanya pasang infus misalnya, atau ngecek tetesan botol tranfusi, memang nya perawat terlalu bodoh, sehingga nggak bisa melakukan hanya karena TB?
Barangkali yang agak pas, butuh tinggi ideal jika perawat sebagai Occupational Health Nurse, di mana terkadang secara operational dituntut untuk bisa lari, loncat, dan manjat. Itupun, orang-orang HSE (Health and Safety Environment tidak semuanya berbadan tinggi). Kecuali, orang-orang Barat atau Afrika yang dari sononya TB nya memang tinggi-tinggi. Orang Netherlands misalnya, rata-rata perempuan di atas 170 cm. Laki-lakinya 184 cms (sumber: ASEAN Body Height 2014).
Jadi, tidak menerima calon mahasiswa keperawatan karena alasan Tinggi Badan adalah Diskriminasi. Diskriminasi melanggar hak azasi manusia. Pelanggaran terhadap hak azasi manusia adalah perbuatan tercela.
Ini adalah diskriminasi gaya lama yang darinya kita tidak mau belajar menghargai hak-hak orang (Human Rights).
Kita, terkadang sangat ideal tentang koar-koar terhadap Human Rights, menyuarakan hak-hak azasi manusia. Tetapi, kita sendiri yang profesional, acapkali tidak mau mereview hal-hal yang sudah kuno. Kita butuh generasi profesional yang kritis, termasuk menghapus diskrimasi Tinggi Badan dan Buta Warna.
Menurut, Asean Average Height 2014, rata-rata TB untuk laki-laki di Indonesia 158 cm dan perempuan 147 cm. TB perempuan Indonesia, lebih rendah ketimbang Malaysia (153), Thailand (159), Filipina (150), Singapore 160. Untuk laki-laki, kita juga di bawah Vietnam dan Filipina (162), Malaysia (165), Thailand (170), Singapore (171) cm).
Jadi, orang Indonesia di wilayah ASEAN, terendah TB nya.
Saat ini, kriteria masuk kampus Keperawatan bagi perempuan adalah 150 cm, sementara rata-rata perempuan Indonesia TB adalah 147, memangnya TB ini sama seperti soal-soal matematika UMPTN?
Saya belum pernah melihat buku penelitian, hasil research kondang di dunia ini, yang menyebutkan bahwa orang yang tinggi badannya, prestasinya bagus, baik-baik, ramah, cekatan, rajin kerja dan baik budinya.
Mohon dicatat, tinggi badan, bukan sesuatu yang bisa disamakan dengan prestasi yang bisa dipelajari dan ada test nya. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena TB nya. TB bukan jaminan orang bakal rajin pandai, jujur, cekatan dan ramah dalam kerjanya. Tinggi badan, bukan pula ukuran kebaikan seseorang. Apalagi karena TB nya, orang bisa masuk surga!
Ringkasnya, TB bukan Key Performance Indicator (KPI) profesional keperawatan. Hapuskan!
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 9 Juni 2017

0 Response to "Seleksi Tinggi Badan, Diskriminasi Dalam Keperawatan"
Post a Comment