Kecewa Berat - Ontamedis, Kami, waktu itu, 1993, adalah gelombang kedua yang kerja di luar negeri. Sebanyak 150 orang yang berangkat ke Kuwait, 350 orang yang ke Saudi Arabia. Ramai banget bandara Jakarta, dibanjiri oleh Perawat Indonesia yang sangat bersemangat kerja di luar negeri. Kayak mau Umrah dan Haji saja.
Di Kuwait, kami ditempatkan di apartment. Saya bisa katakan mewah untuk ukuran rata-rata perawat Indonesia. Perabotan lengkap. Almari, tempat tidur, lantai berkarpet, lemari es, kompor gas, televise berantena internasional, dan makan enak 3x sehari, semuanya disediakan gratis.
Satu bulan pertama nyaris tidak kerja, tapi dibayar. Semuanya senang. Apalagi yang suka santai kerjanya. Hanya orientasi, mengurus syarat-syarat dokumen ada pemandu. Di RS tempat kami kerja, orientasinya di unit Learning & Development. Semua diajarkan dari yang kecil, misalnya formulir yang digunakan di bangsal, prosedur, hingga tabung-tabung laboratorium dan BLS diberikan oleh instruktur.
Meski baru 3 bulan baru kemudian terima gaji, dan jumlahnya besar, karena prosesnya memang panjang mengurusi dokumen, kami tidak kuatir. Semua perawat dijamu. Bahasa amat kami rasakan sebagai kendala utama, tapi tidak masalah. Karena lambat laun teman-teman mampu menyesuaikan diri.
Tahun pertama di sana, kehidupan teman-teman rata-rata berubah total. Jadi: orang kaya baru (OKB). Barang-barang berharga mahal yang semula tidak mampu terbeli di Indonesia, diborong oleh teman-teman. Arloji mahal, kamera, sound system, sepatu, kacamata, adalah yang paling umum. Perhiasan bagi teman-teman cewek. Kami yang semula biasa mau, ada yang berubah jadi: malu-maluin.
Tahun kedua mulai merambat. Ada yang beli tanah, rumah, memperbaiki hunian punya orang tua, sewa sawah, kebun dan tambak. Tahun ketiga ada yang mulai mikir ingin pindah kerja di negara lain. Termasuk ambil TOEFL atau IELTS.
Ini terjadi tidak hanya di Kuwait. Tetapi juga di negara-negara lain di mana Perawat Indonesia kerja. United Arab Emirates, Saudi Arabia, Qatar, Nederland, USA, Canada, Australia, Jepang, Hongkong dan Malaysia. Pokoknya, saat cuti, teman-teman perawat kita ini kayak turis di kampong sendiri.
Perlakuan istimewa selama kerja di sana, makan gratis terus, kerja nyaman, gaji besar, kadang kenaikannya tidak ada pemberitahuan. Yang bikin kecewa berat adalah, tahu kehidupan perawat kayak begini, mengapa tidak dari dulu berangkatnya?
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 23 Mei 2017
Di Kuwait, kami ditempatkan di apartment. Saya bisa katakan mewah untuk ukuran rata-rata perawat Indonesia. Perabotan lengkap. Almari, tempat tidur, lantai berkarpet, lemari es, kompor gas, televise berantena internasional, dan makan enak 3x sehari, semuanya disediakan gratis.
Satu bulan pertama nyaris tidak kerja, tapi dibayar. Semuanya senang. Apalagi yang suka santai kerjanya. Hanya orientasi, mengurus syarat-syarat dokumen ada pemandu. Di RS tempat kami kerja, orientasinya di unit Learning & Development. Semua diajarkan dari yang kecil, misalnya formulir yang digunakan di bangsal, prosedur, hingga tabung-tabung laboratorium dan BLS diberikan oleh instruktur.
Meski baru 3 bulan baru kemudian terima gaji, dan jumlahnya besar, karena prosesnya memang panjang mengurusi dokumen, kami tidak kuatir. Semua perawat dijamu. Bahasa amat kami rasakan sebagai kendala utama, tapi tidak masalah. Karena lambat laun teman-teman mampu menyesuaikan diri.
Tahun pertama di sana, kehidupan teman-teman rata-rata berubah total. Jadi: orang kaya baru (OKB). Barang-barang berharga mahal yang semula tidak mampu terbeli di Indonesia, diborong oleh teman-teman. Arloji mahal, kamera, sound system, sepatu, kacamata, adalah yang paling umum. Perhiasan bagi teman-teman cewek. Kami yang semula biasa mau, ada yang berubah jadi: malu-maluin.
Tahun kedua mulai merambat. Ada yang beli tanah, rumah, memperbaiki hunian punya orang tua, sewa sawah, kebun dan tambak. Tahun ketiga ada yang mulai mikir ingin pindah kerja di negara lain. Termasuk ambil TOEFL atau IELTS.
Ini terjadi tidak hanya di Kuwait. Tetapi juga di negara-negara lain di mana Perawat Indonesia kerja. United Arab Emirates, Saudi Arabia, Qatar, Nederland, USA, Canada, Australia, Jepang, Hongkong dan Malaysia. Pokoknya, saat cuti, teman-teman perawat kita ini kayak turis di kampong sendiri.
Perlakuan istimewa selama kerja di sana, makan gratis terus, kerja nyaman, gaji besar, kadang kenaikannya tidak ada pemberitahuan. Yang bikin kecewa berat adalah, tahu kehidupan perawat kayak begini, mengapa tidak dari dulu berangkatnya?
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 23 Mei 2017

0 Response to "Perlakuan Di Luar Negeri Yang Membuat Perawat Indonesia 'Kecewa Berat'"
Post a Comment