Tanpa STR - Ontamedis, Semalam, ada seorang pemuda, mengeluh. Dia, yang lulusan Skep tanpa Ners, mengisi aplikasi online, untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR). Katanya sudah bayar Rp 100 ribu. Sesudah ke kantor yang ngurus surat sakti ini, dia ditolak. Tentu saja, karena, persyaratannya tidak dipenuhi. Bahwa untuk mendapatkan STR, harus lulus Ukom. Untuk bisa ikut Ukom, harus menyelesaikan program Ners.
Dari pesannya di inbox yang lumayan panjang, saya bisa membaca, betapa dia sangat kecewa dan sedih. Dengan statusnya yang sudah menyandang gelar Skep, dia tidak boleh bekerja sebagai perawat, dengan mengantongi STR, bisa dimengerti. Apalagi duit untuk daftar bukan dari kantongnya sendiri.
Saudara……
STR itu sudah baku aturannya. Sebagai seorang yang berpendidikan, hal ini harus dipahami. Kalaupun harus berubah, butuh waktu dan justifikasi dalam undang-undangnya. Dan itu, tidak gampang. Tetapi, tanpa STR sekalipun, bukan berarti hidup ini harus berakhir!
Semua orang tahu, mahasiswa jurusan keperawatan tidak semuanya dari golongan yang mampu. Ada yang pas-pasan. Ada yang memang kurang mampu. Untuk bayar kuliah saja, harus nabrak sana-sini. Orangtua benar-benar tidak punya dana. Jangankan bayar kuliah, untuk biaya hidup sehar-hari, kadang mereka belum tentu mampu.
Itulah kondisi sebagian mahasiswa keperawatan kita.
Lantas bagaimana? Berhenti dengan status tidak jelas karena tidak mampu melanjutkan ke jenjang profesi Ners, atau terus kuliah dengan risiko bayar besar dari hasil hutang, namun tidak tahu ke mana mencarinya?
Saudara…..
Hidup kita ini memang tidak sama dengan sepeda. Hanya saja, dari sepeda, kita bisa belajar filosofinya. Sepeda, yang murah sekalipun, tidak ada manfaatnya jika tidak dipancal. Untuk mengetahui bahwa sepeda tersebut bermanfaat, harus didirikan, kemudian dipancal supaya berjalan.
Demikianlah sejatinya hidup manusia.
Punya STR atau tidak, jika tidak dipancal, kehidupan tidak bakal jalan. Jadi, mengubah cara pandang itu sangat penting. Katakanlah sudah punya STR, namun jika tidak paham bagaimana mencari kerja, juga tidak akan mendapatkan penghasilan. Hidup akan tetap melarat. Banyak perawat yang hidupnya susah karena kurang jeli melihat potensi dirinya. Sudah 20 tahun kerja, namun tidak punya rumah.
Sebaliknya, tanpa STR, jika kita mampu mengisi peluang, selalu ada yang namanya penghasilan bulanan. Contohnya sudah banyak, perawat yang tidak menggeluti dunia klinis, namun sukses.
Persoalanya, terkadang kita malas mengidentifikasi potensi diri. Kita merasa sudah Sarjana, kadang merasa hina jika mengerjakan hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang yang berpendidikan rendah. Misalnya pekerjaan seorang Care Giver. Apa sih salahnya kerja Care Giver? Di mana sih letak kejelekan seorang Health Care Assistant? Apalagi jika mau kerja di luar negeri.
Mengapa kita mencibir pekerjaan mereka hanya karena mereka tidak boleh: menyuntik, pasang infus, mengangkat jahitan, merawat luka, dan lain sebagainya? Mengapa kita menganggap sulit kerja di luar negeri hanya karena Bahasa Inggris? Bukankah kita tahu bahwa untuk bisa berbahasa, solusinya harus belajar. Bisa kursus, bisa pula mandiri.
Kadang, kita malas sekali untuk mencernah hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana ini.
Itu jika orientasi kerjanya masih bernafaskan klinis. Belum lagi pekerjaan non-clinical skills misalnya bidang farmasi, alat-alat kedokteran dan keperawatan, hingga jualan produk online. Sepanjang halal, tidak ada salahnya mencoba.
Persoalan besarnya penghasilan, dengan status baru lulus, sebaiknya jangan berharap dibayar mahal. Itu lumrah dan terjadi di mana-mana.
Yang penting, fokus untuk memperoleh penghasilan dulu. Nanti sesudah punya gaji, pasti masih bisa melanjutkan lagi jika masih berharap untuk menjdai perawat dengan STR di tangan. Namun, bila tidak minat, masyarakat tidak akan teriak, hanya karena anda tidak punya lisensi.
Enaknya hidup tanpa STR adalah, kita tidak perlu ribet mikirin SKP setiap tahun. Tidak perlu ikut seminar atau workshop. Tidak butuh pulang pergi memperpanjang lisensi. Juga gak perlu menyisakan duit untuk bayar ini itu. Hidup jadi lebih tenang, karena tidak perlu sibuk dengan sertifikat setiap saat.
Tolong jangan diterjemahkan bahwa saya tidak mendukung anda punya STR.
Perlu saudara ketahui dan sadari, bahwa punya STR itu bagus dan ideal bagi sementara orang. Tetapi tidak punya STR, bukan berarti hidup saudara tidak bisa berkembang.
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 18 Mei 2017
Dari pesannya di inbox yang lumayan panjang, saya bisa membaca, betapa dia sangat kecewa dan sedih. Dengan statusnya yang sudah menyandang gelar Skep, dia tidak boleh bekerja sebagai perawat, dengan mengantongi STR, bisa dimengerti. Apalagi duit untuk daftar bukan dari kantongnya sendiri.
Saudara……
STR itu sudah baku aturannya. Sebagai seorang yang berpendidikan, hal ini harus dipahami. Kalaupun harus berubah, butuh waktu dan justifikasi dalam undang-undangnya. Dan itu, tidak gampang. Tetapi, tanpa STR sekalipun, bukan berarti hidup ini harus berakhir!
![]() |
| Perawat Tanpa STR Bagai Sayur Tanpa Garam |
Itulah kondisi sebagian mahasiswa keperawatan kita.
Lantas bagaimana? Berhenti dengan status tidak jelas karena tidak mampu melanjutkan ke jenjang profesi Ners, atau terus kuliah dengan risiko bayar besar dari hasil hutang, namun tidak tahu ke mana mencarinya?
Saudara…..
Hidup kita ini memang tidak sama dengan sepeda. Hanya saja, dari sepeda, kita bisa belajar filosofinya. Sepeda, yang murah sekalipun, tidak ada manfaatnya jika tidak dipancal. Untuk mengetahui bahwa sepeda tersebut bermanfaat, harus didirikan, kemudian dipancal supaya berjalan.
Demikianlah sejatinya hidup manusia.
Punya STR atau tidak, jika tidak dipancal, kehidupan tidak bakal jalan. Jadi, mengubah cara pandang itu sangat penting. Katakanlah sudah punya STR, namun jika tidak paham bagaimana mencari kerja, juga tidak akan mendapatkan penghasilan. Hidup akan tetap melarat. Banyak perawat yang hidupnya susah karena kurang jeli melihat potensi dirinya. Sudah 20 tahun kerja, namun tidak punya rumah.
Sebaliknya, tanpa STR, jika kita mampu mengisi peluang, selalu ada yang namanya penghasilan bulanan. Contohnya sudah banyak, perawat yang tidak menggeluti dunia klinis, namun sukses.
Persoalanya, terkadang kita malas mengidentifikasi potensi diri. Kita merasa sudah Sarjana, kadang merasa hina jika mengerjakan hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang yang berpendidikan rendah. Misalnya pekerjaan seorang Care Giver. Apa sih salahnya kerja Care Giver? Di mana sih letak kejelekan seorang Health Care Assistant? Apalagi jika mau kerja di luar negeri.
Mengapa kita mencibir pekerjaan mereka hanya karena mereka tidak boleh: menyuntik, pasang infus, mengangkat jahitan, merawat luka, dan lain sebagainya? Mengapa kita menganggap sulit kerja di luar negeri hanya karena Bahasa Inggris? Bukankah kita tahu bahwa untuk bisa berbahasa, solusinya harus belajar. Bisa kursus, bisa pula mandiri.
Kadang, kita malas sekali untuk mencernah hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana ini.
Itu jika orientasi kerjanya masih bernafaskan klinis. Belum lagi pekerjaan non-clinical skills misalnya bidang farmasi, alat-alat kedokteran dan keperawatan, hingga jualan produk online. Sepanjang halal, tidak ada salahnya mencoba.
Persoalan besarnya penghasilan, dengan status baru lulus, sebaiknya jangan berharap dibayar mahal. Itu lumrah dan terjadi di mana-mana.
Yang penting, fokus untuk memperoleh penghasilan dulu. Nanti sesudah punya gaji, pasti masih bisa melanjutkan lagi jika masih berharap untuk menjdai perawat dengan STR di tangan. Namun, bila tidak minat, masyarakat tidak akan teriak, hanya karena anda tidak punya lisensi.
Enaknya hidup tanpa STR adalah, kita tidak perlu ribet mikirin SKP setiap tahun. Tidak perlu ikut seminar atau workshop. Tidak butuh pulang pergi memperpanjang lisensi. Juga gak perlu menyisakan duit untuk bayar ini itu. Hidup jadi lebih tenang, karena tidak perlu sibuk dengan sertifikat setiap saat.
Tolong jangan diterjemahkan bahwa saya tidak mendukung anda punya STR.
Perlu saudara ketahui dan sadari, bahwa punya STR itu bagus dan ideal bagi sementara orang. Tetapi tidak punya STR, bukan berarti hidup saudara tidak bisa berkembang.
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 18 Mei 2017

0 Response to "Nikmat Hidup Perawat Tanpa STR"
Post a Comment