Begitu Hinanyakah Status Perawat Indonesia?


Ontamedis.com - Maryam, teman kerja, asli orang Qatar, perawat senior di negara kaya petro dollar, yang saya kenal sejak 2007, tidak pernah bicara soal kesejahteraan perawat. Karena Maryam, sebagaimana perawat asli warga negara Qatar, dibayar besar. Taksiran saya penghasilan per bulannya mencapai tidak kurang dari Rp 200 juta. Itu hanya gaji dari kantor.

Menekuni profesi perawat bagi orang Qatar, sudah cukup menjawab tuntutan hidup sejahteranya. Semuanya dijamin: air listrik murah bagi mereka, layananan kesehatan gratis-tis, aneka tunjangan termasuk tunjangan pendidikan bagi anak-anaknya. Kalaupun Maryam ingin kuliah lagi ke luar negeri (Australia, Inggris dan USA) tinggal milih, tidak perlu antri scholarship kayak kita. Maryam, sungguh beruntung.

Qatar, negara pulau sebesar Madura, sangat kaya. Sebenarnya, Indonesia jauh lebih kaya. Rumput tidak tumbuh di Qatar. Buah-buahan tidak ada. Padi tidak pernah nampak. Sungai mengalir hanya ada di Mall buatan manusia. Curah hujan sangat rendah. Lautan dan danau tidak ada. Tempat rekreasi zero. Koq bisa kaya?

Di negeri kita, jangankan rumput, mangga, padi hingga tambang emas. Manusia pun, tumbuh subur di Indonesia. Jadi, jangan tanya kekayaan Indonesia, negara terbesar ke-4 populasinya di dunia ini. Negara Indonesia, sangat kaya raya!

Jika sudah kaya raya, mengapa masih miskin rakyatnya dan tak kunjung padam keluhan perawatnya?

Bulan-bulan terakhir ini, yang ramai diperbincangkan di media massa adalah soal Pilkada, penistaan di sana-sini, seolah tidak ada issue lebih besar dan jauh lebih penting untuk dibicarakan. Issue yang benar-benar menyentuh aspek mendasar kehidupan, yaitu kesejahteraan manusianya, dikesampingkan oleh jutaan orang.

Perawat Indonesia, sebagai professional kesehatan terbesar di negeri ini nyaris terlupakan nasib dan masa depannya. Perawat Indonesia, tergeser oleh issue-issue yang ‘kurang penting’, sehingga perawat tidak memiliki tempat berlari dan mengadu.

Puluhan ribu fresh graduate yang tidak tertampung dan tidak memiliki solusi perolehan kesempatan kerja, mestinya tidak lepas dari tanggung jawab Pemerintah dan Profesi. Pemerintah memberikan izin pendirian kampus, tetapi tanpa dukungan kita (yayasan pendiri yang rata-rata diisi perawat, juga dosen-dosen keperawatan), mana mungkin terealisasi?

Pemerintah dan orang-orang profesi kita jugalah yang membuat regulasi. Pengembangan fisik profesi kita di satu pihak dibanjiri oleh lulusan, di lain pihak terjadi pengetatan regulasi profesi. Sebagian besar pelakunya adalah orang-orang yang sudah memahami dampaknya.
Siapa yang susah? Perawat juga!

Jangankan yang tidak lulus Uji Kompetensi. Yang lulus saja, susah mencari kerja. Sementara aturan UU Kesehatan dan UU Keperawatan sudah sangat jelas, bahwa tanpa STR, mereka yang sudah lulus tidak bisa disebut professional serta dilarang kerja sebagai praktisi.

Yang sudah kerja, tanpa STR, terancam dipecat. Yang sudah punya STR pun, menghadapi kendala, yakni jumlah tenaga professional di institusi yang membutuhkan, sangat terbatas. Akhirnya muncullah tenaga-tenaga: honor, harian, magang.
Siapa yang susah? Perawat Juga!

Pekerjaan yang ramai bertebaran di media sosial kita yang dikerjakan oleh perawat saat ini adalah: jualan online dan event. Itulah satu dampak nyata: pelarian positif sebagai jalan para perawat muda dan senior yang penghasilannya macet, mencari tambahan.

Perawat juga manusia yang kebutuhan dasarnya perlu dipenuhi. Dengan status D3 dan S1 jika kerjanya sembarangan, mereka kadang gengsi.

Bagaimana tidak gengsi, jika tenaga mereka ternyata lebih rendah penghargaannya dari pada lulusan SMK? Jebolan SMA yang kerja di supermarket bisa memperoleh hasil Rp 2 juta per bulan, sementara perawat S1 hanya dibayar maksimal Rp 1 juta. Itu jika mereka beruntung. Jika tidak, mereka malah diharuskan bayar, hanya untuk magang. Atau kerja di Puskesmas dengan penghasilan Rp 150 hingga 300 ribu per bulan.
Siapa yang menderita? Perawat juga!

Tapi oleh dosen-dosen kampus keperawatan yang sudah mapan, meminta para yunior ini tetap sabar. Oleh senior lain yang sudah mapan, perawat muda ini ditanya: “Jadi perawat memang gak gampang. Mengapa dulu pilih keperawatan sebagai jurusannya?”

Oleh beberapa idealis keperawatan, para yunior juga diberi nasihat: “Kita butuh pembenahan profesi. Pembenahan tersebut makan waktu dan butuh proses!”

Selalu demikian nasihat kepada perawat yunior, hingga mereka, kawula muda keperawatan ini bosan mendengarkannya.

Kerja di dalam negeri ditekankan sebagai sebuah pengabdian. Tetapi Pemerintah tidak sanggup lagi. Menurut Dr. Sri Mulyani, Pemerintah hanya punya 8.5% dana dari APBN untuk mengurusin kebutuhan negeri ini. Yang 91.5% dari mana?

Jadi, jangan berharap Perawat kebagian jatah untuk bisa menuntut status menjadi pegawai negeri (PNS).
Siapa yang menderita? Perawat juga!

Kalau mau kerja di luar negeri sebagai assistant nurses atau caregiver, jebolan D3 dan S1, ditentang habis-habisan oleh doktor-doktor keperawatan yang sudah mapan. Katanya: “Jangan korbankan reputasi profesi!” Giliran para pembesar ini ditanya solusi tentang apa pekerjaan mereka jika STR belum tiba, mereka bungkam.

Orangtua, ironisnya juga tidak mau tahu kesulitan anaknya. Mereka tidak mengizinkan anaknya kerja di luar negeri dengan alasan jauh dan tidak ada yang merawat mereka jika anaknya kerja di negeri orang. Orangtua kurang paham akan ribetnya problematika mendapatkan kerja. Orangtua, mana mengerti STR dan ruwetnya birokrasi kerja perawat di negeri ini?

Jumlah PPTKIS (Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta)-ini singkatannya makin panjang saja (dulu PJTKI), juga terbatas yang menangani perawat. Regulasi terhadap mereka sangat, ketat saat ini. Untuk bikin PT yang ngurusin perawat kerja di luar negeri, saya dengar DP nya saja mencapai Rp 1 milyar. Duit siapa? Belum lagi merekrut perawat yang sangat susah.

Contohnya, untuk kerja di Bahrain, ada 4 dokumen, 12 lembar yang perlu diisi oleh calon perawat yang ingin kerja di sana. Dokumen perawat kita rata-rata harus dilegalisir, oleh kampus, hingga MTKI. Bahrain, hanya segede pulau Madura. Mana Madura, mana Indonesia?

Bagaimana nggak susah kerja di luar negeri, jika sesudah lulus saja, STR masih belum di tangan, tidak diizinkan orangtua, tidak punya pengalaman, ditambah bahasa Inggris yang masih berantakan? Padahal, keempat aspek tersebut yang dibutuhkan oleh PPTKIS. Bikin CV bahasa Inggris saja, mayoritas lulusan S1 kita belepotan. Kecuali Copy and Paste!
Siapa yang menderita? Perawat juga!

Wahai perawat Indonesia…….
Hidup anda makin tahun makin tidak mudah. Tapi saya cukup salut dengan teman-teman muda yang tidak patah semangatnya. Mereka bisa ramai jualan online, ramai ngadakan event, ramai mencari kerja apa saja sepanjang menghasilkan. Teman-teman ramai menghadiri setiap bursa kerja, dan ramai antri ikut Ukom susulan jika tidak lolos Ukom yang lalu.

Saya salut pada prinsip, bahwa untuk melanjutkan kelangsungan hidup, meski berijazah perawat, tidak harus jadi perawat.

Bidan-bidan dan perawat kita yang tinggal serta kerja di luar negeri, dengan status yunior, juga tidak kalah perjuangannya. Mereka sedang bertarung mengadu nasib mereka, sambil memikul nama baik bangsa Indonesia. Mereka kuatkan mental dan iman, meski saat ini dibayar murah. Mereka rela mulai hidup dari bawah.

Patut disayangkan memang, profesi ini belum memiliki pribadi-pribadi kokoh yang serius memperjuangkan nasib perawat muda secara konkrit. Yaitu sosok yang berani memudahkan proses perolehan kesejahteraan hidup bagi perawat.

Punya STR itu bagus sekali. Tetapi yang tidak punya juga harus difikirkan. Kerja di dalam negeri itu sungguh mulia, tetapi kerja di luar negeri juga memberikan sumbangan devisa. Kerja di RS itu sangat ideal, tetapi menyumbangkan tenaga di industry juga butuh dukungan bila digaji layak.

Ayolah Ibu Menteri Kesehatan, sekali-kali tengok anak Ibu yang bernama perawat ini. Sebenarnya pemerintah serius apa tidak sih dengan profesi ini? Perawat kita ini bukan anak orang asing yang ingin menjajah Indonesia koq. Mereka juga anak-anak Ibu sendiri.

Ayo teman-teman dosen, jangan sibuk selfie saat makan di resto, jika ada seminar dan aneka workshop tentang profesi. Ajarkan mereka ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang serius sehingga bisa bersaing dengan perawat asing. Bukan bermain di ladang sendiri.

Ayolah penggede Organisasi Profesi, angkatlah issue-issue konkrit tentang kesejahteraan ini saat seminar, adakan workshop perolehan kerja, bikin CV, cara interview, sehingga sorotan kegiatan OP bukan hanya advokasi atau bagaimana registrasi STR.

Ayolah mahasiswa…… belajarlah yang rajin. Tekuni bahasa Inggris. Jangan bisanya main HP dan gadget, sibuk chatting dan pasang status saja demi gengsi, tapi nggak berani diminta kerja di luar negeri.

Juga perawat dan bidan Indonesia……..pengguna FB, Twitter, Instagram……..Ayolah, jangan sukanya hanya pajang gambar produk jualan dan event saja (sekali-kali mbok ya nulis artikel tentang marketing skills atau motivasi kerja).

Wahai perawat Indonesia…..
JIka tidak ada fihak yang mau berubah, begitu hinakah status perawat Indonesia?

Suatu hari, saya bertanya kepada Maryam, apa sebenarnya yang difikirkan oleh perawat Qatar saat ini. Dengan santainya dijawab,: “Sepanjang kesejahteraan perawat terpenuhi, pada dasarnya, mereka tidak terlalu peduli, adanya council atau tidak.”

Apa benar yang demikian bisa terjadi di Indonesia? Wallahu a’lam!

Ditulis oleh : Syaifoel Hardy
Di : Malang, 15 April 2017

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu."

0 Response to "Begitu Hinanyakah Status Perawat Indonesia?"

Post a Comment