Tetangga kami mengeluh, pembantu rumah tangga (PRT) mereka, tidak mau balik kerja jika dibayar kurang dari Rp 1.5 juta per bulan. PRT, kata tetangga, berani pasang tariff sekarang dan mahal. Kesannya professional, meski kerjanya ‘sembarangan’.
Tetangga kami yang satunya, hampir tiap bulan, ganti PRT nya. Pasti ada ‘apa-apanya’. Kalau bukan karena pekerjaan yang tidak sesuai, sikap tuan rumah atau gaji yang tidak pas.
Seumur-umur, tidak pernah mengetahui seorang PRT kerja, yang ikhlas tidak dibayar. Mereka memiliki tariff minimal yang ‘disepakati’. Baik oleh kalangan PRT maupun ibu-ibu rumah tangga.
.............
“Saya lebih baik kerja lainnya, dari pada di RS tidak dibayar.” Keluh San, asal Bojonegoro, Jatim, lulusan S1 Ners, dengan setahun pengalaman kerja, beberapa pekan silam.
“Sedih juga sebenarnya. Sesudah kuliah 5 tahun lamanya, habis biaya puluhan juta, ujung-ujungnya tidak dibayar, dengan status bernama ‘magang’.” Kata Eka, dari Purwokerto, Jawa Tengah, jebolan S1 Ners tahun lalu.
“Sambil nunggu STR, saya magang, Tapi tidak dibayar. Bikin tidak semangat, baik saat berangkat, maupun ketika pulang dari tempat kerja.” Kata Emi, dari Blitar-Jatim, yang magang di sebuah Puskesmas di Kediri.
“Kami yang berstatus honorer, kapan itu, iuran, untuk diberikan kepada yang magang.” Kisah mbak Tatik di Malang-Jatim.
“Sudah lima tahun lebih saya kerja, dengan upah rendah, status tidak jelas. Susah juga. Kasihan anak, juga orangtua saya.” Jelas mbak Reni dari Palopo, Sulawesi Selatan.
“Kami petugas lapangan. Rp 150 ribu per bulan. Hampir setiap hari harus keliling ke pelosok pedalaman. Belum lagi jalanan yang berbatuan atau becek karena hujan. Inilah risiko magang.” Burhan turut berkisah, dari Sumbawa.
Ada ribuan kisah duka Perawat Magang.
Kita tidak bisa salahkan Pemerintah. Tidak juga menyalahkan pihak penyedia layanan kesehatan. ‘Take it or Leave it’. Itu lah prinsipnya. Ambil atau tinggalkan.
Jika perawat sendiri yang tidak berani mengambil keputusan, akan dilindas. Kapan ‘tragedi’ ini akan berakhir? “Sama-sama magang”, kata Lina, asal NTB, “lebih baik jangan nanggung. Dari pada di negeri sendiri gratisan, lebih baik di luar negeri saja, yang dibayar berlebihan.”
Perkara status sebagai Assistant Nurse atau Caregiver, itu persepsi manusia saja. Yang penting halal, menghasilkan dan area kerjanya juga di sector keperawatan. Lha kita memang belum punya STR, pengalaman juga masih zero. Bahasa Inggris pun kadang masih ‘blo’on’, masak mintanya gaji selevel pejabat Eselon?
Yang pasti, teman-teman perawat muda harus berani berkata ‘Tidak!’ apabila harus kerja tanpa bayar. Jangan rusak reputasi profesi dengan permainan istilah yang kedengaran keren tapi ‘menyesatkan’. Setuju atau tidak, status ‘Magang’ pasti sangat tidak nyaman dan merendahkan. PRT saja, meski dikategorikan non professional, tidak sudi kerja dengan status ‘magang’.
Bila perawat mau melakoninya, lantas di mana tingkat keberadaan harga diri profesi, manakala dengan PRT pun, perawat kalah dalam hal pasang harga?
Tangis Perawat-perawat magang tidak bakal sanggup mengubah keadaan. Lagi pula, jumlah Rupiah yang kita butuhkan, tidak pernah ramah terhadap keikhlasan.
Perawat harus berani mengambil keputusan. Antara tetap bertahan dalam kondisi memprihatinkan di lapangan, atau bertekad melangkah tegar, menghadapi tantangan, demi masa depan.
Ayo Gan, Sis!!!
Ditulis oleh : Syaifoel Hardy

0 Response to "Tangis Duka Perawat-Perawat Magang"
Post a Comment